Orang yang menyediakan hawa nafsunya, yang dipuji dalam hidupnya, berarti telah berbuat syirik yang sebenarnya menurut islam hawa nafsu harus tunnduk kepada kehendak Allah Swt. Dalam surat Al-Qoshos : 38, lafal ilah dipakai oleh Fir'aun untuk dirinya sendiri, yang artinya:
"Dan Fir'aun berkata, wahai para pembesar aku tidak menyangka bahwa kalian memiliki ilah selain diriku".
Bagi manusia, Tuhan itu bisa dalam bentuk konkrit maupun abstrak/gaib. Al-Qur'an menegaskan bahwa ilah bisa dalam bentuk mufrad maupun jama' (ilah, ilahain, ilahuna). Ilah ialah sesuatu yang dipentingkan, dipuja, dimintai, diagungkan diharapkan memberikan kemaslahatan dan termasuk yang ditakuti karena mendatangkan bahaya.
Didalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah : 163 menegaskan, "Dan tuhanmu, tuhan yang maha esa, tidak ada tuhan selain dia yang maha pengasih dan maha penyayang." ilah yang dituju ayat diatas adalah Allah Swt, yang menurut Ulama' Ilmu Kalam Ilah disini bermakna al-ma'bud, artinya satu-satunya yang diibadati/disembah. Sedang al maududi memberi makna Al Marhub, Al matbu', yang dicintai, yang disenangi,diikuti. Inilah yang disebut Tauhid Uluhiyah, bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang diibadahi, dicintai, disenangi dan diikuti.
Allah Swt menfirmankan dalam Al-Qur'an surat Thoha : 14, yang artinya: "Sesungguhnya Aku Allah. Tidak ada Tuhan selain aku (Allah), maka beribadahlah hanya kepada-ku (Allah), dan dirikanlah salat untuk mengingatku".
Kalimat Tauhid keesaan secara komprehensif mempunyai pengertian sebagai berikut:
- La Kholiqo illa Allah : Tiada Pencipta selain Allah
- La Roziqo illa Allah : Tiada pemberi rizqi selain Allah
- La Hafidha illa Allah : Tiada pemelihara selain Allah
- La Malika illa Allah : penguasa selain Allah
- La Waliya illa Allah : Tiada pemimpin selain Allah
- La Hakima illa Allah : Tidak hakim selain Allah
- La Ghoyata illa Allah : Tiada yang maha menjadi tujuan selain Allah
- La Ma'buda illa Allah : Tiada yang maha disembah selain Allah
Lafal Al-ilah pada kalimat tauhid menurut Ibnu Taimiyah memiliki pengertian yang dipuja dengan cinta sepenuh hati, tunduk kepadanya, merendahkan diri dihandapannya, takut dan mengharapkan kepadanya, berserah hanya kepadanya ketika dalam kesulitan dan kesusahan, meminta perlindungan kepadanya, dan menimbulkan ketenangan jiwa dikala mengingat dan terpaut cinta dengannya. Ini yang disebut Tauhid Rububiyah .
Lawan tauhid adalah syirik, artinya menyetukan Allah Swt dengan yang lain, mengakui adanya Tuhan selain Allah, menjadikan tujuan hidupnya selain kepada Allah. Dalam ilmu Tauhid. Syirik digunakan dalam arti mempersekutukan Tuhan lain dengan Tuhan Allah Swt, baik persekutuan itu mengenai dzatnya, sifatnya atau af'alnya, maupun mengenai ketaatan yang seharusnya hanya ditujukan kepadanya saja.
Syirik merupakan dosa yang paling besar yang tidak dapat diampuni, syirik itu bertentangan dengan perintah Allah Swt, juga berakibat merusak akal manusia, menurunkan derajat dan martabat manusia, serta membuatnya tak pantas menempati kedudukan tinggi yang telah ditentukan Allah Swt. Dalam kaitannya dalam masalah ini, Allah Swt berfirman dalam Surat Luqman : 13. "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang amat besar."
Dan didalam ayat lain Allah Swt menjelaskan bahwa orang yang telah berbuat syirik kepadanya, tergolong orang yang telah berbuat dosa besar, sebagaimana firmannya, "Sesungguhnya Allah tidak dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa selain dosa syirik, bagi siapa yang dikehendak. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar". (QS An Nisa' : 48)
Sumber : "KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM" halaman 26-29
No comments:
Post a Comment